PROJECT UPAYA PELESTARIAN DUGONG : REALISASI > WACANA

Komunitas Pendidikan

Bekasi – Centropala.org, Dugong (Dugong dugon) atau duyung adalah salah satu dari 35 jenis mamalia laut yang dijumpai tersebar di perairan Indonesia. Satwa yang sering ditemui di habitat padang lamun ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Dugong juga menjadi prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Di mata dunia pun dugong termasuk dalam Daftar Merah IUCN (the International Union on Conservation of Nature) sebagai satwa yang “rentan terhadap kepunahan”, serta termasuk ke dalam Apendiks I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Hal ini berarti dugong merupakan satwa yang dilindungi penuh dan tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Populasi dugong yang ada di perairan Indonesia sampai dengan saat ini belum dapat dipastikan jumlahnya karena masih terbatasnya kajian status populasi yang dilakukan. Dengan ancaman yang beragam dan terus meningkat, Dugong sebagai satwa laut yang dilindungi kini terdesak keberadaannya dan membutuhkan sebuah upaya terpadu antara pihak yang terkait.

“Komunitas pemerhati lingkungan bisa membantu menyebarkan informasi pelestarian dugong dan habitat lamun di Indonesia. Penyampaian informasi yang dibutuhkan di setiap wilayah tentu berbeda karena kondisi yang dihadapi berbeda. Maka dibutuhkan strategi komunikasi yang efektif agar setiap informasi yang diberikan dapat merubah sikap dan pandangan sehingga tujuannya tersampaikan dengan baik”, ucap Pak Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, KKP.

 

Saat ini ahli dugong dan penggiat konservasi dugong dan lamun di Indonesia masih sangat minim, sehingga berdampak pula terhadap minimnya data dan informasi terkait dugong dan lamun serta upaya konservasinya. Oleh karena itu, kehadiran para penggiat konservasi dugong dan ahli dugong di Indonesia perlu diperkuat. Agar data dugong dan padang lamun dapat terkumpul sebagai basis data nasional, maka metode pengambilan data yang terstandarisasi akan membantu pengumpulan data yang dapat dibandingkan, baik di tingkat nasional, maupun internasional.

Dugong and Seagrass Conservation Project Indonesia – (DSCP Indonesia) adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk meningkatkan konservasi dugong (Dugong dugon) dan ekosistem padang lamun di Indonesia. DSCP Indonesia dilakukan kolaborasi 4 (empat) lembaga yaitu KKP, LIPI, IPB dan WWF Indonesiadengan mendapat dukungan hibah dari Global Environtment Facility (GEF) yang diinisiasi bersama United Nation Environment Programme – Convention on the Conservation of Migratory Species (UNEP-CMS) bekerjasama dengan Mohammed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ). Proyek ini adalah bagian dari upaya global yang terkoordinasi untuk melestarikan duyung dan padang lamun pada delapan negara di kawasan Indo-Pasifik, yaitu Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Timor-Leste dan Vanuatu. Inti utama proyek ini adalah meningkatkan partisipasi masyarakat serta rasa kepemilikan terhadap konservasi dugong dan padang lamun, dengan fokus memperkenalkan praktik perikanan berkelanjutan dan insentif keuangan yang inovatif, Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD), dan mendorong konservasi dugong dan lamun sebagai prioritas dalam kebijakan dan perencanaan nasional maupun daerah.

Di dalam kegiatan “Pelatihan Metode Survei dan Pemantauan untuk Dugong dan Habitat Lamun”, berbagai materi terkait survei dan pemantauan dugong dan habitat lamun akan diajarkan oleh para pelatih, baik dari Indonesia maupun mancanegara, di antaranya Prof. Hans de Iong (Leiden University); Kotaro Ichikawa (Kyoto University); Nicholas Pilcher (Marine Research Foundation, Malaysia); Irendra Rajawali (Bonn University); Christophe Cleguer (James Cook University); Prof. Sam Wouythuzen, Wawan Kiswara, Sekar Mira, dan Nurul Dhewani (P2O LIPI); Andreas Hutahaean dan Agustin Rustam (P3SDLP – KKP); Adriani Sunuddin dan Luky Adrianto (IPB); serta Dwi Suprapti (WWF-Indonesia). Topik materi dari para pelatih meliputi database, bioakustik, pemantauan berbasis masyarakat, aerial survey, jasa ekosistem lamun, dan penanganan mamalia laut terdampar.

Ketua Umum Centro Komunitas Kegiatan Pencinta Alam yang ber-kesempatan menghadiri acara tersebut menyatakan, “Dugong merupakan mamalia laut yang dilindungi dan berperan sebagai pengendali kesehatan ekosistem padang lamun. Pelestarian dugong dan padang lamun berarti mempertahankan keberlanjutan ekonomi yang dihasilkan dari padang lamun.” Beragam komoditas perikanan berharga seperti teripang, baronang, dan rajungan hidup di ekosistem padang lamun.

 

Kontributor : Oki Ahmadiansyah (817-008)

Editor : Bayu Tri A

Sumber dokumentasi : Gallery Cekakpala 

Shared Yuk Kakak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *