Gua: Keindahan Tersembunyi dari Perut Bumi

Event Komunitas Pendidikan

Centropala.org – Bekasi, Disaat mendaki gunung menjadi petualangan yang semakin mainstream dan mulai membosankan, rafting di sungai dan susur pantai juga terlalu biasa untuk kamu jajal, rasanya kamu harus coba jenis petualangan lain yang tidak kalah seru dan tergolong ekstrim, susur gua (“Caving”) bisa kamu coba sebagai alternatif kegiatan alam bebas lainnya. Jika bentuk kegiatan di alam bebas kebanyakan dilakukan di alam terbuka, tidak demikian halnya dengan telusur gua, kegiatan ini justru dilakukan di dalam tanah memberikan sensasi lain untuk mencari keindahan dunia lain yang belum tentu dapat ditemui dalam kegiatan alam terbuka pada umumnya.

Aktivitas Caving diterjemahkan sebagai aktivitas penelusuran atau penjelajahan gua, secara khusus penelusuran gua sendiri digunakan sebagai kegiatan penelitian. Speleologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang gua termasuk proses pembuatannya (speleogenesis), struktur, fisik, sejarah dan aspek biologis. Setiap aktivitas penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Maka dari itu untuk melakukan susur gua di perlukan alat safety, seperti helm, wearpack, headlamp, masker dan sepatu boots karet, P3K, serta pengetahuan tentang jenis dan bentuk gua, yang sangat penting untuk peralatan tambahan yang harus dibawa pada saat penelusuran gua.

Ada beberapa jenis gua yang dapat ditemukan, baik alamiah maupun artifisial, yang terbagi menjadi:

  1. Gua Alamiah

Gua ini terbentuk dari proses fisis dan kimia di alam, Gua ini memiliki bentuk yang sangat beragam, Gua alamiah ini antara lain berdasarkan batuan penyusunnya yaitu:

  • Karst (Kapur) :

Bentuk akibat terjadinya peristiwa pelarutan beberapa jenis batuan akibat aktifitas air hujan dan air tanah, sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat proses kristalisasi dan pelarutan batuan tersebut.

  • Gua Pasir, Gua Batu Halit, dan Gua Es

Bentukan gua yang sangat jarang dijumpai di dunia. Hanya meliputi 5% dari seluruh jumlah gua di dunia. di Indonesia hanya ditemukan tiga jenis gua, yaitu gua batu gamping, gua lava, gua laut.

  • Gua Litoral

Sesuai namanya terdapat di daerah pantai, palung laut ataupun di tebing muara sungai, terbentuk akibat terpaan air laut (abrasi).

  • Lava

Yaitu sebuah gua yang terbentuk di bagian dalam lelehan lava basalt jenis pahoehoe yang konsistensinya mirip aspal panas dan kental. Lubang masuk ke dalam gua lava biasanya adalah bagian atap lorong yang runtuh.

Gua artifisial

Atau sering disebut gua buatan, gua ini dibuat untuk tujuan tertentu dan menguntungkan. Di Indonesia banyak ditemukan gua buatan seperti gua Jepang di Gunung Merapi, Bukittinggi-Sumbar, dan Pajering-Sumsel.

BENTUK GUA

  • Gua Horisontal: Gua yang bentukan lorongnya relatif mendatar, dalam artian dapat ditelusuri dengan teknik horizontal cave seperti crawling, squeezing, dan sebagainya.
  • Gua Vertikal: Gua dengan entrance/mulut gua berbentuk tegak, sehingga dalam penelusurannya diperlukan alat bantu.
  • Gua bawah air: Gua yang sebagian lorongnya dipenuhi air, sehingga dalam penelusurannya diperlukan alat diving (selam)
  • Gua yang merupakan gabungan dari dua atau tiga macam gua di atas

Kegiatan penelusuran gua bukanlah kegiatan yang bisa dianggap sebelah mata karena banyak hal yang perlu dipersiapkan dan tidak sedikit yang memerlukan teknik-teknik khusus. Teknik yang dibutuhkan untuk penelusuran gua tergantung dari bentuk gua, pengenalan medan sangat diperlukan dalam melakukan penelusuran gua. Beberapa teknik yang dibutuhkan yaitu, tali temali, Single Rope Tehnic (SRT), teknik menyelam, semua teknik tersebut dipakai tergantung dari bentuk gua yang akan ditelusuri. Bukan berarti ketika menelusuri Gua Horisontal tidak perlu menguasai salah satu teknik tersebut, tali temali sangat diperlukan untuk kegiatan yang satu ini.Selain teknik maupun peralatan, ada yang perlu diketahui ketika melakukan penelusuran gua, yaitu Etika Penelusuran Gua:

TAKE NOTHING BUT PICTURE

Dilarang mengambil apapun kecuali gambar

LEAVE NOTHING BUT FOOT PRINT

Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak kaki

KILL NOTHING BUT TIME

Dilarang membunuh apapun kecuali waktu

Salah satu contoh gua horisontal adalah Gua Cikekenceng yang berada di Desa Tajur, Citereup, Bogor. Gua ini sering dipakai untuk latihan gabungan (LATGAB) ataupun latihan dasar maupun menengah untuk kegiatan Sispala, Mapala maupun KPA. Salah satu teknik yang diperlukan adalah tali menali untuk digunakan pada saat membuat tangga dengan webbing. Di dalam gua ini sendiri terdapat waterfall setinggi 2.5 meter dan 3 meter yang harus dilalui untuk dapat sampai ke chamber atau aula besar. Aula besar ini sendiri merupakan tempat dari kelelelawar pada saat mereka beristirahat.

Perlu diketahui beberapa ornamen di dalam gua, yaitu Gourdam, bentuknya seperti petak sawah ini terbentuk karena adanya pengendapan air (H20), zat asam arangnya (CO2) menghilang dan menyisakan kalsit yang bersusun-susun, Soda Straw, seperti stalagtit namun memiliki diameter yang lebih kecil, Stalagtite, tumbuh dari atap gua menuju ke bawah yang terbentuk karena adanya rekahan kecil pada tubuh batu gamping yang memungkinkan terjadinya tetesan air yang mengandung larutan kalsium karbonat, Stalagmite, terbentuk dari tetesan air dari Stalagtite, yang terakumulasu di lantai dan menjadi dekorasi sendiri, dan terdapat Coloumn atau Pilar Gua yang merupakan pertemuan dari Stalagtite dan Stalagmite.

 

 

 

 

 

 

Tidak sedikit biota yang ditemui dalam gua ini, seperti udang, kalacemeti (sejenis kalajengking), ular, kecoa gua, dan hewan-hewan lainnya. Yang perlu di catat bahwa pada saat penelusuran gua, tidak disarankan untuk menyentuh ornament-ornamen yang ada pada gua dengan sembarangan karena dapat memperlambat pertumbuhan dari ornamen-ornamen tersebut.

Salam Lestari! Salam CENTRO!

 

Kontributor || Dina Evita (817-016)

Editor || mo_krs

 

Shared Yuk Kakak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *