Pendakian Gunung Merayakan Kemerdekaan RI

Ce-Pe Event Tips and Trik

Centropala.org, Bekasi – Haloo gaeess! Tanggal 16-17 Agustus, saya dan KPA CEKAKPALA melakukan pendakian serentak ke 3 gunung yaitu Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Dengan tema pendakian Triple S (Smart, Safety And Social) yang merupakan sebuah gerakan edukasi kepada para pendaki yang dibalut dengan semangat kemerdekaan RI. Dalam pendakian ini pun kami melakukan sebuah gerapan konsep zero waste. Apasih zero waste itu? Mau tau aja apa mau tau banget nih? Mungkin sebagian dari kita ada yg belom tau zero waste itu apa? Okee gua jelasin yaa zero waste itu apa.

Konsep zero waste adalah sebuah filsafat mengenai meminimalisir atau mengurangi pembuangan dari proses awal produksi hingga pada end user. Zero waste juga bertujuan etis, ekonomis, efisien dan visioner, untuk membimbing masyarakat dalam mengubah gaya hidup dan praktik-praktik dalam meniru siklus perancangan, proses serta pengelolaan secara sistematis terhadap sampah atau limbah yang bertujuan untuk melestarikan dan memulihkan sumber daya alam.

Banyak dari pendaki yang menyadari pentingnya kelestarian gunung, mereka sering  melakukan operasi bersih atau Bahasa terkenalnya opsih ketika akan turun gunung, tetapi membawa kembali sampah turun dirasa kurang efektif karena itu hanya memindahkan masalah. Lalu bagaimana dengan pendakian dengan menerapkan konsep zero waste? Cara nya relatif mudah kalau teman-teman juga memiliki keinginan untuk menjadi salah satu pendaki yang peduli akan sampah di gunung. Ini beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk konsep zero waste:

  1. Hindari cemilan berbungkus plastik, kamu bisa menggantinya dengan buah-buahan atau gula Jawa kiloan yang dibeli dan dibawa dengan wadah makanan.
  2. Sebisa mungkin mengurangi makanan siap saji, gantilah dengan berbagai jenis sayuran yang dibawa dengan keranjang atau goodie bag atau plastik zipper, bisa juga membawa tempe yang berbungkus daun pisang.
  3. Daripada membawa tisu, lebih baik membawa serbet atau kain lap.
  4. Mengganti botol minum dengan Tumbler atau jerigen atau water tank.
  5. Menghemat plastik untuk packing basah dengan cara menyatukannya dengan plastik berukuran besar.
  6. Belajar cara mengompos dengan cara menimbun sampah-sampah organik pada lubang yang digali agak kepinggir dari jalur pendakian (komposing)

Jadi, dalam pendakian serentak ini, peserta diharuskan untuk memenuhi poin-poin diatas dalam melakukan perjalanan kali ini. Ciptakan budaya baru dalam pendakian, bukan lagi bawa turun sampah mu tapi “Kurangi Sampah Plastikmu“. Bukan lagi membawa trash bag yang besar tapi bawa kebanggaan yang besar, bahwa kita telah melangkah ke arah Indonesia bebas sampah 2020.

Nah, lanjut nih tentang perjalanan nyayaa hehe. Tanggal 15 sebelum berangkat kami melakukan upacara pelepasan para peserta terlebih dahulu di sebuah lapangan yang di pimpin oleh pembina KPA Cekakpala yaitu Bang Ais/Braga jam setengah 5 sore. Setelah upacara selesai kita sholat maghrib terlebih dahulu lalu berangkat dari lapangan RW 14 Harapan Jaya menuju lokasi pada 7 malam menggunakan travel.

Di dalem 1 travel kami di isi dari 3 kelompok pendakian, dan saya sendiri (Rizky) dari kelompok pendakian Gunung Sindoro yg memiliki ketinggian 3153 Mdpl bersama 7 teman saya yaitu bang Martin sebagai ketua kelompok perjalanan kami, Pace, Adit, Rizal, Oscar, Bilqis dan Aping. Tim yg pertama di anter adalah team Gunung Slamet, kami sampai di Basecamp Dipa Jaya, Pemalang (BC Gunung Slamet) jam 01.20 dini hari. Lalu perjalanan di lanjutkan menuju BC Sindoro yaitu Alang-alang Sewu dan yang terakhir barulah tim dari Gunung Sumbing via Kaliangkrik. Sempat nyasar sih ketika nyari BC Alang alang Sewu padahal udah pake google maps loh haha, tapi Alhamdulillah akhirnya ketemu BC Alang alang Sewu.

Kamis, 16 Agustus 2018 sekitar pukul 9 kami tiba di BC Alang alang Sewu. Di BC kita habiskan waktu untuk cek ulang peralatan, mandi, dan makan. Setelah melakukan registrasi, pendakian kami mulai pada jam 11 siang, sebelum melakukan pendakian pun tidak lupa kami berdoa bersama agar selamat sampai tujuan hingga kembali ke rumah dengan selamat.

Oke gaeess, akhirnya berdoa telah selesai dan pendakian gunung sindoro pun di mulai. Untuk trek awal kami masih melewati rumah-rumah warga dan menanjak dengan kondisi jalur bebatuan yg sudah tertata rapi hingga sampai batas vegetasi. Istirahat sejenak di batas vegetasi, perjalanan pun kami lanjutkan. Jalur dari batas vegetasi hingga pos 1 berupa tanah, cukup sempit juga dengan kondisi beberapa pohon yg sudah tumbang tapi jalur nya cukup jelas kok.

Welcome to pos 1! Yeah akhirnya kami tiba juga di pos 1 dengan tenaga yg sudah terkuras. Setelah istirahat perjalanan pun kami lanjutkan menuju pos mata air. Dalam perjalanan menuju pos mata air ini cukup melelahkan karna jalur tangga dan juga makin menanjak. Di jalur ini kita di bikin loncat dan menunduk juga loh karna pohon tumbang hahaha, dan akhir nya kami tiba di pos mata air.  Sesampainya di pos mata air kami membuka biskuit dan juga mengambil air yang berjarak kurang lebih nya 100 meter dari jalur pendakian untuk persediaan kami selama di Gunung Sindoro.

Perjalanan pun kami lanjut menuju pos 2 yg berjarak tidak jauh dari pos mata air. Pos 2 ke pos 3 jalur pun semakin menanjak, dan disini lah tenaga kami sangat terkuras. Namun jangan sangka di jalur menuju pos 3 ini pemandangan nya cukup indah dan mulai terbuka. Sesampai nya di pos 3 ini pemandangan nya cukup indah dengan panorama gunung sumbing di depan mata, awan yang berada di bawah kita dan juga senja yg cukup menakjubkan. Wow luar biasaa bukan, ini baru di pos 3 loh hehe. Pos 3 ini bernama sunrise hunter dan biasa menjadi tempat camp para pendaki gunung sindoro via Alang-alang sewu, tempat ini bisa menampung puluhan tenda dengan kondisi tanah yang datar dan namun terbuka. Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 5. Kami beristirahat di pos 3 agar perjalanan summit menuju puncak nya tenaga kami terkumpul kembali.

Jumat, 17 Agustus 2018 pukul 6.30 wib kami melakukan track summit menuju puncak untuk melakukan upacara pengibaran bendera merah putih. Rencana kami summit attack menuju puncak Gunung Sindoro pada pukul 4 subuh namun apalah daya kami semua bangun jam 5, maklum manusia jam karet hahaha. Perkiraan perjalanan dari pos 3 menuju puncak sekitar 2,5-3 jam dengan kondisi trek yang semakin menanjak dan terbuka, oiya perjalanan menuju puncak ini kami di hiasi dengan bau belereang yg cukup menyengat loh. Dan untuk kalian yang ingin mendaki ke Gunung Sindoro jangan lupa bawa buff atau masker.

Alhamdulillah team kami semua nya mencapai puncak tertinggi Gunung Sindoro yang bernama Latar Ombo.  Namun apalah daya lagi lagi kami semua jauh dari perkiraan karena kita sampai puncak pada pukul 9.30 wib dan upacara pun telah selesai. Pada akhir nya kami hanya membentangkan bendera bersama dengan tim kami yang berjumlah 8 orang. Setelah usai melakukan foto bersama dan beristirahat di puncak kami melanjutkan perjalanan turun. Karena perjalanan mendaki gunung tidak hanya sampai puncak saja, namun juga kembali ke rumah masing-masing dengan keadaan selamat. Perjalanan turun kami lakukan dengan sangat hati-hati karena jalur yang cukup berdebu dan juga licin, bahkan beberapa kali kami sempat terpeleset.

Perjalananan turun cukup ringkas waktu nya hanya 1,5 jam perjalanan. Sesampai nya di tempat camp kami langsung masak, makan, mengumpulkan sampah yang ada di area kami dan bersiap-siap untuk turun menuju basecamp. Ketika kalian turun gunung jangan lupa untuk membawa kembali sampah kalian ya dan buanglah pada tempat nya, ingat! Gunung bukanlah tempat sampah.

Setibanya di basecamp pada pukul 19.13 wib dan kami sibukkan dengan beristirahat, makan, bersih-bersih, dan berbincang sambil menunggu travel yang akan menjemput kami. Oiya sebelumnya saya sudah menyampaikan kepada ketua kami bahwa setelah perjalanan dari Gunung Sindoro ini saya dan kedua teman saya yaitu Pace dan Rizal ingin melanjutkan perjalanan menuju Gunung Prau yang berada tidak jauh dari Gunung Sindoro tersebut loh.

Gunung Prau ini pun sebelum nya pernah saya kunjungi sebanyak 2 kali. Okee travel pun sampai dan tim yang akan pulang bersiap-siap untuk jemput tim Gunung Slamet lalu pulang menuju ke kota asal, namun tidak untuk saya, Pace, dan Rizal yang harus turun di Terminal Mendolo yang berada di Wonosobo, karna kami sudah janjian dengan teman kami di Terminal Wonosobo. Kami bermalam di terminal sambil menunggu teman kami yang sedang berada di bis dari Bekasi menuju terminal Wonosobo.

Sabtu, 18 Agustus 2018 saya di bangunkan oleh sosok laki-laki rada gemuk yang bernama Hari. Okee kali ini saya melakukan pendakian menuju gunung Prau dengan tim yang berbeda saat saya ke Sindoro. Team saya kali ini ada 7 orang yaitu saya sendiri sebagai Rizky, Pace, Rizal, Hari, Mega, Ridho, dan Tio. Untuk jalur nya pun rencana awal kami via Kalilembu, namun karena beberapa pertimbangan akhir nya kami memutuskan untuk lewat jalur Pathak Banteng. Transportasi dari terminal hingga ke basecamp Pathak Banteng kami menggunakan kendaraan elf 3/4 dengan harga Rp20.000 bersama para pendaki Gunung Prau lainnya. Jam setengah 11 siang, kami pun tiba di BC dan kami sibukkan dengan aktivitas bersih-bersih, makan, beli keperluan logistik yang kurang, serta cek ulang peralatan. Setelah registrasi kami mulai pendakian Gunung Prau jam 01.40 siang, dan tidak lupa untuk berdoa terlebih dahulu.

Basecamp ke Pos 1 track awal nya aja udah tangga hadeehh lumayan menguras tenaga juga di track tangga warna warni ini ya hehe. Setelah bertangga lewat tibalah yang bertanah, wow siang hari kondisi panas, di tambah debu tanah lumayan bikin susah napas juga sih. Tapi ya inilah pendakian lelah cape pun harus kita syukuri dan kita lalui dengan senang hati. Tidak sampai 30menit kami sudah tiba di pos 1.

Pos 1 – pos 2 kondisi track masih sama yaitu tanah berdebu juga tangga-tangga kecil. Sepanjang jalur pos 1 menuju pos 2 ini masih ada warung nya loh gaeess, bisa dicoba tuh semangka dan carica nya hehe cukup nikmat deh pokoknya. Pos 1 menuju pos 2 ini tidak begitu jauh kok jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di pos 2.

Pos 2 – pos 3, nah dijalur ini sudah mulai sejuk udara nya karena di tutupi oleh pohon-pohon. Jalur ini kondisi nya masih sama tanah dan berdebu serta mulai semakin menanjak. Yah nama nya gunung ya semua tidak semudah yang kita pikirkan harus kerja keras, lelah, cape pasti nya tapi itu semua tetap kita nikmati dan kita isi dengan canda tawa sepanjang perjalanan.

Pos 3 – pos 4, nah jalur ini lah yang paling membuat tenaga kita terkuras sepanjang jalur pendakian gunung prau via Pathak Banteng ini gaeess. Jalur nya tangga yang meninggi hahaha, dengkul yang bisa ketemu dengan dagu. Tangga yang terbuat alami dari tanah ini jika kita lalui pada saat setelah hujan pasti sangat licin sekali loh, jadi selalu gunakanlah peralatan safetymu selalu dalam mendaki gunung apapun. Setelah bekerja keras melewati jalur ini yang bernama pos cacingan sampailah kami di pos 4. Alhamdulillah pos 4 menuju Sunrise Camp ini sangat dekat dan jalur nya pun landai, tidak sampai 15 menit saja kami sudah sampai di lokasi Sunrise Camp.

Sampai lokasi Sunrise Camp jam 4 lewat 10, kami segera mendirikan 2 tenda yang sudah kami bawa karena angin yang cukup kencang hingga membuat udara terasa sangat dingin kala itu. Bahkan kami semua tidak berani untuk keluar tenda, wow luar biasa kan dingin nya haha. Di dalam tenda kami habiskan waktu untuk ngopi dan juga bersenda gurau. Yaa itulah kami, dengan kondisi lelah, cape, ngantuk, senang tetap kita habiskan waktu dengan bersenda gurau. Perbincangan yang diiringi oleh canda dan tawa  di tenda kami menjadikan tenda kami terasa hangat. Kami pun memasak makanan yang sudah kami bawa dan menyantap nya secara bersamaan. Okee waktu sudah menunjukkan 24.00 dini hari kami pun tertidur.

Minggu, 19 Agustus 2018 jam setengah 9 pagi, saya, Pace, dan Rizal di bangunkan oleh teman-teman kami yang lainnya. Yaahh ketinggalan sunrishe dah ☹, sebenarnya mereka sudah membangunkan kami bertiga dari jam setengah 6 namun karena lelah dan juga dingin membuat kami males untuk keluar tenda hingga kami tertidur kembali. Aduuhh dasaarr kebo kalian.

Terbangun dari tidur kami bagi tugas, sebagian memasak dan juga packing peralatan. Makanan pun matang kami semua makan bersama.

Okee, sesudah makan dan packing, kami pun membersihkan sampah bekas kami lalu foto dan doa bersama untuk turun, kami pun melakukan perjalanan turun menuju basecamp. Perjalanan turun pun ngantri karena gunung prau ini ramai kaya pasaarr. Masih dengan kondisi yang sama yaitu berdebu, hingga kami jarang sekali berhenti untuk istirahat sejenak. Perjalanan turun hanya membutuhkan waktu kurang lebih nya 60-90 menit saja.

Akhirnya jam 1 siang kami tiba di basecamp dan melapor ulang kepada pihak basecamp. Aktivitas kami di basecamp bersih-bersih, dan juga ngopi saja untuk makan rencana kami di terminal. Waktu menunjukkan jam setengah 3 sore hingga mengharuskan kami kembali ke kota asal kami yaitu Bekasi dengan menggunakan Bis.

Selamat tinggal Sindoro, Prau, dan Wonosobo kami akan kembali untuk mengobati rasa rindu akan keindahan kalian nantinya. Alhamdulillah Senin 20 Agustus kami tiba di kota kami dengan selamat, sehat wal’afiat. Sekian dari saya, terimakasih sudah mau mampir untuk membaca nya. Jangan lupa jagalah alam ini, jangan mengambil apapun selain gambar, jangan membunuh apapun selain waktu, jangan meninggalkan apapun selain jejak. Kurangi sampah plastikmu, bawa turun kembali sampahmu, kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga alam ini?

Kontributor || Rizky Saputra (817-070)

Editor || mo_krs

Shared Yuk Kakak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *